Di tengah gempuran podcast, platform streaming musik, dan media sosial, bagaimana nasib radio konvensional di telinga anak muda Indonesia? Apakah mereka masih setia “menyetel” siaran, ataukah radio telah menjadi relik masa lalu yang hanya dikenal orang tua? Sebuah survei terbaru dari GoodStats pada Oktober 2024 mencoba menjawab pertanyaan ini, melibatkan 500 responden berusia 18-25 tahun dari seluruh Indonesia.
Hasil survei menunjukkan gambaran yang menarik, sekaligus memicu diskusi dan nostalgia di kalangan warganet.
Seberapa Sering Anak Muda Mendengarkan Radio?
Data survei GoodStats memperlihatkan bahwa 48% anak muda menyatakan “Tidak Pernah” mendengarkan radio dalam 1 bulan terakhir. Angka ini cukup signifikan, mengindikasikan bahwa hampir setengah dari Gen Z dan milenial muda mungkin tidak lagi menjadikan radio sebagai bagian rutin dari konsumsi media mereka.
Namun, bukan berarti radio mati total. Masih ada segmen yang tetap mendengarkan:
- 14,6% mendengarkan 2-4 hari sekali.
- 12% mendengarkan 1 bulan sekali.
- 10,8% mendengarkan Setiap hari.
- 9,4% mendengarkan Seminggu sekali.
- 5,2% mendengarkan Dua minggu sekali.
Ini menunjukkan bahwa meskipun porsinya mengecil, radio masih memiliki tempat, bahkan bagi sebagian kecil anak muda yang mendengarkannya setiap hari.
Stasiun Radio Favorit di Kalangan Anak Muda
Ketika ditanya tentang stasiun radio favorit, RRI (Radio Republik Indonesia) secara mengejutkan menduduki peringkat teratas dengan 40%, diikuti ketat oleh Prambors dengan 38,6%. Disusul kemudian Gen FM (21,2%), Jak FM (12%), Hard Rock (9,3%), Elshinta (6,5%), Mustang FM, Sonora, Kis FM, dan Trax FM (masing-masing 4%), serta Bens Radio (1,2%). Sisanya 37,2% memilih “Lainnya” (multiple answer).
Dominasi RRI ini cukup menarik perhatian. Seperti yang dikomentari oleh seorang warganet, “RRI kebalikan dari TVRI. Walaupun sama-sama lembaga penyiaran publik, tapi audience TVRI lebih cenderung boomer dibanding RRI yang audiencenya banyak berasal dari segala usia.” Ia menambahkan bahwa RRI, sebagai lembaga penyiaran tertua, masih bisa catch-up dengan zaman dan menarik pendengar muda. Ini mungkin karena RRI memiliki jaringan yang sangat luas di seluruh Indonesia, seperti yang diutarakan Muhammad Reza Nursaid, “RRI menang jaringan aja mereka, sama kaya Telkomsel.”
Mengapa Anak Muda Masih (Atau Tidak Lagi) Mendengarkan Radio?
Diskusi di kolom komentar menunjukkan berbagai alasan:
- Teman Perjalanan: Banyak yang setuju bahwa radio menjadi teman setia saat berkendara. “Kalo sering nyetir biasanya dengerin radio buat temen di jalan,” kata Den Vian.
- Informasi Lalu Lintas & Berita: Radio seperti Elshinta (untuk informasi kemacetan) atau RRI Pro 2 dan kanal berita lainnya masih menjadi pilihan untuk mendapatkan informasi cepat. “elshinta buat cari tau info kenapa bisa macet,” ujar Primamulia Teguh.
- Kebiasaan di Kantor/Sekolah: “Anak muda di kantor tempat kerja saya biasa denger radio karena dibiasakan ma senior nya.” Lingkungan kerja atau belajar seringkali menjadi pemicu kebiasaan mendengarkan radio.
- Nostalgia dan Hiburan Spesifik: Beberapa rindu segmen curhat yang dulu populer, atau mencari lagu-lagu tertentu yang sulit ditemukan di playlist. Ada pula yang masih setia dengan acara-acara khas seperti sandiwara radio di RRI Solo atau program dugem di Radio Wijaya Surabaya.
- Alternatif dari Playlist: “dengerin radio lebih enak sih ketimbang dengerin playlist,” ada juga yang berpendapat demikian, mungkin karena faktor kejutan menemukan lagu baru atau interaksi dengan penyiar.
- Ketersediaan Konten Lokal: Di luar Jakarta, radio-radio lokal seperti Mfm, Cosmonita Malang, Gagak Rimang, X FM Blora, atau Thomson Blora masih memiliki basis pendengar setia.
Tantangan Radio di Era Modern:
- Iklan “Jamu Tetes Herbal”: Banyak warganet mengeluhkan frekuensi iklan yang berlebihan, terutama iklan “jamu tetes herbal” yang dianggap mengganggu pengalaman mendengarkan. “tapi bang radio sekarang kan dispam jamu tetes herbal dari 10 channel, yang full music / berita sekitar 2~3 aja,” keluh seorang netizen.
- Pergeseran ke Podcast dan Streaming: “Sekarang enakan dengerin podcast,” dan “lebih sering dengerin Spotify” adalah sentimen umum yang menunjukkan pergeseran preferensi.
- Fitur Radio FM di HP: “Gegara HP sekarang gak ada fitur Radio FM + Jack Audio, anak mudanya males denger Radio, pake internet ya nanggung, daripada dengerin Streaming Radio, mending Streaming Video.” Ketiadaan fitur radio FM bawaan di smartphone modern memang menjadi hambatan besar.
- Kualitas Sinyal: “Gak dapet sinyal radionya” masih menjadi masalah di beberapa daerah, membuat radio daring (online) menjadi satu-satunya pilihan.
- Konten yang Kurang Relevan: Di beberapa daerah, konten radio lokal mungkin tidak selalu sesuai dengan selera anak muda, seperti keluhan tentang radio yang didominasi campursari atau dangdut.
Masa Depan Radio: Adaptasi atau Punah?
Meskipun tantangan besar membayangi, radio belum sepenuhnya runtuh. Mereka yang masih mendengarkan cenderung memiliki alasan spesifik: sebagai teman perjalanan, sumber informasi lalu lintas, atau sekadar ingin menemukan lagu baru. Radio online atau aplikasi radio box juga menjadi solusi bagi mereka yang tidak memiliki perangkat radio fisik atau terkendala sinyal.
Radio perlu terus berinovasi, mungkin dengan mengurangi iklan yang mengganggu, meningkatkan konten yang relevan dengan anak muda, dan memperkuat platform streaming mereka. Apakah radio akan kembali berjaya seperti di masa lalu? Mungkin tidak dalam bentuk yang sama, tetapi dengan adaptasi yang tepat, radio bisa tetap menjadi medium yang relevan, terutama sebagai pendamping aktivitas sehari-hari di tengah kebisingan dunia digital.

